MALANG, BeritaAntara.com – Sebanyak 4.524 pramuka santri dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 yang dipusatkan di Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
PPSN VI berlangsung selama sepekan, 30 September hingga 6 Oktober 2026. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI Basnang Said melalui Upacara Bhinneka, Kamis (1/10).
Majelis Keluarga Pengasuh Ponpes An-Nur II Al-Murtadlo yang juga Sekretaris Yayasan Pendidikan Pesantren An-Nur, Drs. H. Khairuddin Din, AKMSI, MM, mengatakan An-Nur II dipilih sebagai tuan rumah setelah melalui sejumlah pertimbangan kesiapan lokasi dan fasilitas.
Menurut Khairuddin, sebelumnya terdapat sejumlah daerah yang menjadi alternatif lokasi PPSN VI, di antaranya Kabupaten Lumajang, Jombang, dan Mojokerto.
“Awalnya Kemenag pusat menunjuk Kabupaten Lumajang, kemudian alternatif kedua Jombang dan ketiga Mojokerto. Setelah panitia pusat PPSN VI sowan kepada Ibu Gubernur, An-Nur II menjadi pondok pesantren yang dinilai paling siap di Jawa Timur,” katanya.
Ia menjelaskan kesiapan tersebut salah satunya didukung fasilitas yang sebelumnya telah dipersiapkan untuk kegiatan perkemahan. Pada 2025, An-Nur II sempat diproyeksikan menjadi lokasi kemah Ma’arif Malang Raya yang direncanakan PBNU melalui Ma’arif NU, meskipun kegiatan tersebut batal dilaksanakan.
“Dari persiapan itu otomatis kesiapan kami sudah ada, baik lokasi maupun fasilitas. Untuk kemah putra kami siapkan sekitar dua hektare, begitu juga untuk putri sekitar dua hektare,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia PPSN VI 2026 Endi Suhendi mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pertemuan dan perkemahan pramuka santri, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat karakter, semangat kebangsaan, serta kepedulian terhadap lingkungan.
“PPSN bukan sekadar perkemahan. Di sini, santri ditempa untuk mencintai bangsa dan negaranya, sekaligus dibangun kesadarannya untuk menjaga alam sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai agama,” kata Endi.
Sebanyak 4.524 peserta mengikuti berbagai rangkaian kegiatan dengan penempatan peserta laki-laki dan perempuan di area perkemahan yang berbeda.
Selain kegiatan kepramukaan, PPSN VI juga diramaikan pameran dan bazar UMKM yang menghadirkan berbagai produk usaha masyarakat.
Direktur Jenderal Pesantren Kemenag RI Basnang Said dalam pembukaan mengajak para pramuka santri menjadi generasi yang membawa pesan positif di tengah masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya peran santri dalam mencegah kekerasan dan perundungan serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Anak-anak pramuka santri adalah duta-duta antikekerasan dan antiperundungan, sekaligus duta-duta generasi santri peduli lingkungan hidup,” katanya.
Basnang mengatakan nilai-nilai yang terdapat dalam gerakan kepramukaan memiliki keselarasan dengan kehidupan pesantren, antara lain ketakwaan, kecintaan terhadap alam, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
“Nilai-nilai Dasadarma Pramuka satu napas dengan nilai-nilai kepesantrenan. Keduanya sama-sama mengajarkan ketakwaan, cinta alam, kedisiplinan, dan tanggung jawab,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi Ponpes An-Nur II yang menjadi tuan rumah PPSN VI, termasuk konsep pesantren yang mengedepankan lingkungan hijau dan kelestarian alam.
Bagi pihak An-Nur II, pelaksanaan PPSN VI menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lingkungan dan kehidupan pesantren kepada ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Khairuddin berharap para peserta dapat memperoleh pengalaman sekaligus melihat secara langsung potensi pendidikan dan pembentukan karakter yang dikembangkan di lingkungan pesantren.
“Harapan kami, seluruh santri dari pelosok negeri yang datang ke sini bisa melihat bahwa dari Pondok Pesantren An-Nur II ternyata bisa lahir generasi-generasi tangguh, berkarakter, cinta lingkungan dan memiliki daya saing global,” katanya.
Ia menambahkan pesan tersebut juga sejalan dengan amanat Basnang agar para peserta menjadikan akhlakul karimah sebagai pedoman, termasuk setelah kembali ke pesantren, keluarga, dan lingkungan masyarakat masing-masing.
“Jadilah teladan dalam pencegahan kekerasan, di pesantren, di lingkungan, dan di tengah masyarakat,” ujar Basnang.
(Putra)
Berita Antara Media Terdepan dan Terpercaya