JAKARTA – Maraknya aksi perampokan bersenjata api akhir-akhir ini membuat polisi bersikap tegas. Aparat berbaju cokelat ini Senin malam lalu (23/8) menembak mati gembong perampok yang menyatroni tiga toko emas di Pasar Bukit Duri Tebet, Jakarta Selatan.
Tersangka KR ditembak mati di tempat persembunyiannya di Kota Ambarawa, Jawa Tengah. Dari tangan KR, polisi menyita sepucuk pistol rakitan jenis FN berikut pelurunya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Boy Rafli Amar mengatakan, saat hendak ditangkap, KR justru melepaskan tembakan ke arah petugas sambil berusaha kabur. ”Anggota kami sudah melepaskan tembakan peringatan tapi tak digubris. Terpaksa anggota kami melepaskan tembakan terarah ke kaki dan belakangan ke tubuh KR karena terus berusaha melawan,” bebernya.
Dia menambahkan, selain menembak mati KR, pihaknya juga sudah menangkap hidup-hidup 10 pelaku perampokan tiga toko emas di Pasar Bukit Duri pada Jumat (6/8) lalu, di antaranya berinisial RP, RK, KP, MG dengan barang bukti dua pucuk pistol jenis Revolver dan lima pucuk pistol jenis FN dari tangan para tersangka. ”Empat di antaranya penadah. Mereka diduga kawanan yang sama dalam kasus perampokan di Bogor, Depok dan Bekasi,” terang Boy.
Ia mengatakan, saat ini pihaknya masih memburu lima pelaku lain yang diduga sedang bersembunyi di Pulau Sumatera. ”Tapi dari seluruh tersangka yang dapat ditangkap berhasil diselamatkan pula 10 Kg emas hasil kejahatan mereka,” tuturnya.
SISA GAM
Pemerintah tengah menelusuri asal-usul senjata api (senpi) yang digunakan dalam aksi perampokan yang marak akhir-akhir ini. Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro menduga, senjata tersebut berasal dari sisa-sisa konflik Aceh.
Purnomo mengatakan, dalam perjanjian Helsinki terdapat kesepakatan pengumpulan senjata eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Namun, dia mendapat laporan belum semua senjata dapat dikumpulkan. ”Jadi itu yang sekarang kita minta klarifikasi. Dihitung lagi, dulu jumlahnya berapa, yang sudah terkumpul berapa, yang masih beredar berapa, dan di mana saja, itu yang penting,” kata Purnomo di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.
Menhan memastikan senjata tidak berasal dari TNI. ”Di gudang-gudang tidak ada, dan itu bukan pegangan TNI. Karena itu AK 47,” kata Purnomo. Saat ini TNI tidak menggunakan senjata buatan Rusia tersebut.
Purnomo mengatakan, TNI sekarang tengah berada dalam pertalihan penggunaan senjata jenis M-16 ke SS1 dan SS2. ”Jadi ketahuan sekali SS1 SS2 dipegang personil kita,” kata mantan menteri energi dan sumber daya mineral itu.
Menhan mengatakan, selain sisa konflik Aceh, kemungkinan lainnya adalah dari penyelundupan. Dia menambahkan, selain TNI dan Polri yang memiliki hak memegang senjata, secara undang-undang memang ada organisasi lain yang juga berhak. ”Saya tidak katakan yang mana. Saya tahu ada sekitar beberapa organisasai yang mereka bisa menggunakan sejata,” kata Purnomo.
Panglima TNI Djoko Santoso juga menegaskan tak ada senjata api milik TNI yang digunakan para perampok. ”Jadi dari hasil penelitian itu, senjata ini sampai saat ini hasilnya bukan senjata TNI,” kata Panglima. Djoko mengatakan, penertiban senjata api harus dilakukan bersama-sama dengan kepolisian.
PECATAN POLISI
Secara terpisah, pihak Mabes Polri mengatakan bahwa peredaran senjata gelap masih susah dibendung. Meski begitu, aparat kini fokus merazia senjata dan mendata ulang senjata api yang beredar di masyarakat.
’’Peredaran senjata api saat ini memang memprihatinkan. Namun, jumlah senjata api yang beredar saat ini, kami tidak tahu. Ini kelemahan kita semua,’’ ujar Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Pol Iskandar Hasan.
Mantan Kapolda Bangka Belitung itu menuturkan bahwa peredaran senjata api saat ini sulit dilacak. Tidak sedikit senjata api ilegal masuk melalui daerah yang minim pengawasan polisi. Misalnya, daerah perairan yang kerap digunakan sebagai lokasi untuk menyelundupkan senjata api.
’’Kita memiliki daerah perairan yang sangat luas dan sulit dikontrol. Semua pantai tidak terpantau semua. Mereka (penyelundup) masih memiliki celah, meskipun kita sudah membangun pos keamanan di beberapa pantai,’’ katanya.
Perampok di Medan dan beberapa wilayah lainnya menggunakan senjata api genggam dan juga laras panjang. Di Medan, misalnya, mereka menggunakan senpi FN, AK-47 dan AK-56. Senjata itu diduga mudah beredar di pasar gelap.
Dalam beberapa kasus kriminal yang berhasil dibongkar polisi, biasanya tersangka mengakui senjatanya berasal dari ’’orang dalam’’. Misalnya, dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Eksekutor Nasrudin, Daniel mengaku bahwa revolver Colt 38-nya didapat dari oknum anggota Brimob dan oknum anggota TNI-AL. Senjata itu ternyata tidak teregistrasi karena ditemukan saat tsunami Aceh, diperbaiki, lalu dijual ulang.
Dalam kasus latihan terorisme di Aceh, para pelaku secara terang-terangan mendapatkan senjata dari oknum pecatan polisi bernama Sofyan Tasuri. Selain itu, mereka berhasil mereparasi sisa-sisa senjata konflik Aceh yang rusak.
Wakil Kepala Divisi Humas Polri Kombespol Ketut Yoga Ana menegaskan, salah seorang perampok yang terlibat di Medan terkait dengan kasus perampokan di Aceh Timur. ’’Dia juga terlibat perampokan pada 2009 di Marelan, Medan. Dia juga ditangkap atas kepemilikan senjata SS-1 yang lebih dahulu disita Poltabes Medan,’’ ujar Ketut. Perampok berinisial MRA itu juga diketahui memiliki satu senapan serbu militer lain bertipe AK-47 yang dipinjamkan kepada temannya. (ind/kum/rdl/c4/iro/jpnn).
Sumber: http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=71302