Home / Agama / Rasulullah SAW juga berpolitik

Rasulullah SAW juga berpolitik

Habib Muchsin ketua PD. Gemira Jawa Timur

Politik adalah kata yang akhir – akhir ini banyak keluar dari mulut – mulut masyarakat Indonesia. Jual beli suara dan saling suap menyuap kepentingan adalah hal yang terjadi belakangan ini. Hal ini tentunya menyebabkan terjadinya antipati dari masyarakat terhadap para pelaku politik terutama kepada calon-calon legislatif yang sekarang sedang melakukan kegiatan kampanye, apalagi setelah terjadinya “tsunami Akbar” ditangkapnya 41 anggota DPRD Kota Malang pada kasus suap dalam waktu-waktu belakangan ini. Parahnya, tampaknya para pelaku politik masih tidak belajar dari masa lalu, mereka tetap melakukan kegiatan-kegiatan money politics dengan alasan sudah “budaya” atau bahkan dengan adanya kalimat “kalau tidak begini tidak mungkin menang” benarkah seperti itu? Apakah suap, korupsi, kolusi, dan jual beli suara adalah sebuah keharusan dalam pentas politik?

Untuk menjawab pertanyaan diatas pantasnya kita melihat seperti apa panutan kita yaitu Rasulullah SAW berpolitik. Rasulullah SAW adalah seorang diplomat dan ahli siasat yang ulung dengan bukti yang masih kita rasakan sampai saat ini. Di ceritakan pada tahun-tahun pertama kehijrahan Rasulullah dan para sahabat ke kota Madinah, Rasulullah membuat sebuah perjanjian yang adil antara masyarakat asli kota Madinah dengan masyarakat muhajirin dari Makkah dan masyarakat non muslim di sekitaran kota Madinah dengan sebuah perjanjian untuk hidup rukun dan tidak saling mengganggu yang dikenal dengan piagam Madinah. Dalam perjanjian tersebut tidak ada money politics, tidak ada jual beli kepentingan, Rasulullah SAW tulus, ikhlas, untuk keamanan ummat di kota Madinah, mari kita bandingkan dengan kejadian dewasa ini dimana semua perjanjian politik membutuhkan “pelicin” dan “uang panas” untuk menghasilkan sebuah keputusan. Apa perbedaan masa sekarang dengan dulu ? Di sini penulis merumuskan 4 perbedaan mendasar

1. Keikhlasan berjuang untuk ummat
2. Kejujuran tujuan dan niat
3. Sifat wara’ takut akan dosa
4. Sifat cinta duniawi

Dari 4 sifat di atas perlu kita tanyakan kepada para pelaku politik _yang melakukan kegiatan-kegiatan korupsi,kolusi,suap,dsb._ apakah mereka berpolitik dengan dasar 4 hal diatas atau malah sebaliknya ? Mari introspeksi diri kita masing-masing.

Muhammad Muhsin
_Ketua PD Gemira Jawa Timur_

About adminban

Check Also

Pancasila Dalam Kehidupan Masyarakat

Pancasila Dalam Kehidupan Masyarakat Judul buku : Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi Penulis : M. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *